About

test

Saturday, May 28, 2016

MAKALAH KALKULASI BIAYA PESANAN

MAKALAH
KALKULASI BIAYA PESANAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas

       Mata Kuliah                : Akuntansi Manajemen
       DosenPengampu         : Tina Martini, SE., M.Si




 Disusun Oleh :
      Dian Prasetya                         1320310118   
      Faela Sofa Andriani                1320310126
      Alifatut Tdadkiroh                  1320310130


     
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN MANAJEMEN BISNIS SYARIAH
TAHUN AKADEMIK 2015/2016






BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Penentuan harga produk adalah proses pembebanan biaya manufaktur (produksi) kepada produk yang dibuat. Pemahaman terhadap proses ini sangat penting bagi seorang manajer, karena cara menentukan harga pokok produk akan berpengaruh terhadap laba bersih yang dilaporkan. Tujuan dilakukannya proses penentuan harga pokok adalah untuk menghasilkan informasi tentang biaya yang akan membantu para manajer untuk merencanakan, mengendalikan, mengarahkan perusahaan dan membuat keputusan. Ada dua metoda penentuan harga pokok produk yang selama ini paling banyak digunakan adalah metoda harga pokok pesanan dan metoda harga pokok proses. Jika perusahaan membuat produk atas dasar pesanan maka metoda yang cocok adalah metoda pokok pesanan.
Dalam makalah ini akan membahas tentang kalkulasi atau metoda harga pokok pesanan (Job Order Costing).

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka rumusan masalah yang akan dibahas adalah :
1.      Bagaimana Sistem Akuntansi Biaya Pesanan ?
2.      Bagaimana Penentuan Harga Pokok (KOS) Pesanan ?
3.      Bagaimana Pembebanan Biaya Overhead Pabrik
4.      Bagaimana Catatan-Catatan dan Transaksi Bisnis (Recording and Business Transaction) ?


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sistem Akuntansi Biaya Pesanan
Pada dasarnya ada dua alasan mengapa suatu perusahaan industri akan memulai memproduksi barang, pertama karena adanya pesanan dengan spesifikasi tertentu dari konsumen dan kedua melakukan proses produksi dengan maksud untuk mengisi persediaan di gudang, tanpa menunggu pesanan terlebih dahulu, untuk kemudian dijual ke pasar.
Sistem akuntansi biaya atas dasar pesanan, perusahaan industri yang berproduksi hanya atas dasar pesanan pada umumnya akan menghasilkan produk yang sangat bervariasi dan berbeda satu sama lain sesuai dengan kehendak konsumen. Contoh perusahaan yang menggunakan sistem harga pokok pesanan adalah usaha percetakan, kontraktor, dan usaha mebel. Contoh lain untuk perusahaan jasa adalah rumah sakit, konsultan hukum, dan bengkel reparasi mobil atau motor.
Walaupun setiap pesanan sering kali dikaitkan dengan konsumen tertentu, sistem akuntansi biaya atas dasar pesanan dapat juga digunakan untuk memproduksi barang guna mengisi persediaan untuk kemudian dijual pada konsumen tertentu. Dalam sistem produksi atas dasar pesanan, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap pesanan, setiap pekerjaan atau setiap konsumen. Ketika suatu pesanan atau pekerjaan telah selesai, harga pokok per unit untuk pesanan tertentu dihitung dengan membagi total biaya per pesanan dengan jumlah unit yang dihasilkan.[1]





B.     Penentuan Harga Pokok (KOS) Pesanan
Produksi berbasis pesanan dan penentuan kos (harga pokok) pesanan
Perusahaan yang memproduksi atas dasar pesanan menghasilkan produk yang sangat bervariasai dan satu sama lain berbeda. Setiap pesanan menghendaki spesifikasi produk yang unik sesuai selera pemesan. Contoh perusahaan berproduksi atas dasar pesanan antara lain perusahaan percetakan, mebel, bengkel, salon dan lain sebagainya. Dalam perusahaan manufaktur, sebuah pesanan atau pekerjaan dapat terdiri atas 1 unit produk, misalnya mobil dan rumah, atau terdiri dari beberapa unit produk. System harga pokok pesanan dapat juga digunakan untuk menghasilkan barang yang akan disimpan sebagai persediaan untuk kemudian dijual di pasar. Namun yang paling sering adalah bahwa system harga pokok pesanan dikaitkan dengan pesanan dari seseorang pelanggan. Kunci untuk memahami metode ini adalah bahwa kos (harga pokok) untuk sebuah pekerjaan berbeda satu sama lain, dan dapat ditelusur secara terpisah.
Untuk system produksi berbasis pesanan, biaya produksi dikumpulkan per pekerjaan. Pendekatan ini disebut dengan system penentu kos (harga pokok) pesanan. Dalam sebuah perusahaan berbasis pesanan, pengumpulan biaya per pekerjaan menghasilkan informasi bagi manajemen. Jika proses produksi telah selesai, kos perunit dengan membagi total biaya produksi dengan jumlah unit yang diproduksi.
Sebagai contoh, jika total biaya produksi untuk mencetak 100 ekstemplar buku berjumlah Rp. 3.000.000, maka kos perunit buku adalah Rp. 30.000.000,00 dengan informasi unit kos tersebut, manajer dapat menentukan berapa harga jual yang akan di bebankan kepada para pelanggan agar dapat menghasilkan margin laba tertentu yang layak. Jika harga jual yang ditetapkan tidak menghasilkan laba yang layak, maka hal ini merupakan tanda bagi manajer bahwa biaya produksi terlalu besar, sehingga menajer dapat mengambil tindakan untuk mengurangi biaya produksi, jika memungkinkan. Alternative lain yang dapat dilakukan adalah perusahaan hanya memfokuskan pembuatan produk yang dapat menghasilkan margin laba yang memadai.[2]
C.    Pembebanan Biaya Overhead Pabrik
Dalam sistem harga pokok normal, Biaya overhead dibebankan ke produk dengan menggunakan tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan dimuka.
    ü   Tarif Overhead ditentukan di muka
Perbedaan pokok antara harga pokok sesungguhnya dan harga pokok normal adalah pada penggunaan tarif overhead ditentukandi muka. Tarif ini dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Tarif Overhead = Anggaran Overhead / Anggaran Tingkat Kegiatan[3]
ü   Konsep dasar pembebanan biaya overhead
Tarif biaya overhead yang ditentukan di muka, digunakan untuk membebankan biaya overhead ke produksi. Total biaya overhead yang dibebankan ke produksi disebut dengan biaya overhead pabrik dibebankan. Biaya Overhead Pabrik (BOP) yang dibebankan dihitung dengan menggunkan rumus sebagai berikut:
BOP Dibebankan = Tarif x Tingkat kegiatan sesungguhnya
Pengukuran aktivitas produksi yang digunakan untuk menghitung tarif BOP harus sama dengan ukuran aktivitas produksi sesungguhnya. Jika tarif BOP dihitung atas dasar jam tenaga kerja langsurng maka BOP harus dibebankan atas dasar jam tenaga kerja langsung yang sesungguhnya dikonsumsi.
Berikut ini adalah contoh untuk memahami lebih dalam tentang konsep pembebanan BOP. PT. Bell La Dona menghasilkan 2 macam Produk yaitu Cord Less Phone dan Reguler Phone. Data estimasi dan sesungguhnya yang dimiliki adalah sebagai berikut:
Anggaran BOP                              Rp. 3.600.000.000,00
Jam Tenaga Kerja                                      120.000 jam
Jam Tenaga Kerja sesungguhnya               100.000 jam
BOP Sesunggunya                                    Rp. 3.200.000.000,00
Dengan menggunakan data diatas maka tarif BOP dapat dihitung sebagai berikut:
Tarif BOP    = Anggaran BOP/aktivitas normal
                     = Rp. 3.600.000.000,00/120.000 jam
                     = Rp. 30.000,00 per jam
Dengan menggunakan tarif tersebut maka BOP yang dibebankan pada periode tersebut dapat dihitung sebagai berikut:
BOP Dibebankan     = Tarif BOP x Aktivitas sesungguhnya
                                 = Rp. 30.000,00 x 100.000 jam
                                 = Rp. 3.000.000.000,00[4]

D.    Catatan-Catatan dan Transaksi Bisnis (Recording and Business Transaction)
Pada bagian akhir bab ini diuraikan secara rinci berbagai macarn akuntansi biaya pesanan. Dengan banrtan berbagai contoh. kita akan menyelidiki catatan-catatan dan ayat jurnal  yang termasuk dalarn sistem ini.
1.      Akuntansi untuk Bahan-Bahan (Accounting for Materials)
Buku besar umum industri manuthktur meliputi perkrraan rn'entaris yang disebut inventaris bahan mentah dan persediaan. Perkiraan aktiva Iancar ini biasanya memiliki neraca debet pada awal dan akhir dari tiap-tiap periode akuntansi. Apabila perusahaan menggunakan beberapa jenis persediaan dan bahan mentah. buku besar pembantu dapat digunakan untuk mnendukung perkiraan buku besar umum. Buku besar yang demikian biasanya disebut Buku Besar Bahan Mentah atau Buku Besar persediaan. Bentuk perkiraan buku besar persediaan dapat dilihat dalam Ilustrasi 7.2.
Sebagai catatan-catatan pembantu, buku besar persediaan dapat digunakan untuk berbagai macam tujuan. Pertama memelihara kartu catatan untuk jumlah masing-masing bahan mentah yang tersedia. Kedua, bilamana kartu menunjukkan bahwa persediaan telah dicapai pada suatu tingkat tertentu (titik pesanan kembali). suatu pesanan dapat ditempatkan untuk penempatan kembali persediaan. Ketiga, catatan-catatan tersebut melengkapi bukti tertulis bahwa seluruh bahan mentah yang dibeli digunakan dalam produksi.
Jika pabrik membutuhkan bahan mentah, suatu dokumen sumber yang disebut bon permintaan bahan-bahan, dibuat untuk memberi otoritas kepada juru rulis gudang dalam memindahkan bahan-bahan ke pabrik. Bentuk kartu permintaan barang dapat dilihat dalam ilustrasi berikut:
KARTU BUKU BESAR PERSEDIAAN
Perkiraan persediaan No         :                                   Batas pesanan kembali            :
Nama barang                           :                                   Jml. Pesanan kembali              :
Lokasi dalam gudang              :                         
Tgl
Ref
Penerimaan
Pemakaian
Neraca
Jml Unit
Biaya Unit
Total Biaya
Jml Unit
Biaya Unit
Total Biaya
Total Biaya
Biaya Unit
Total Biaya













Ilustrasi 7.2 Kartu Buku Besar Persediaan



            Jurnal umum yang menunjukkan dua mentah dan persediaan adalah :
Tanggal
Keterangan
Jumlah
(dalam ribuan)
Agustus
19xx

18

30
Inventaris bahan mentah dan persediaan
Utang dagang
Pembelian bahan mentah persediaan dari Z X
Inventaris barang dalam proses
Overhead pabrik
Inventaris bahan mentah dan
persediaan

Rp. 200.000,00



Rp. 100.000,00
Rp.   40.000,00


Rp.200.000,00





Rp. 140.000,00

            Ilustrasi jumal pemasukan yang pertama adalah pembelian bahan mentah dan persediaan, secara kredit. perkiraan lnventaris bahan mentah dan persediaan di debet untuk tiap-tiap pembelian. Karena itu keseimbangan perkiraan tetap di jaga. Setiap saat perkiraan maupun perkiraan buku besar pembantu (kartu persediaan) dapat ditambah. Contoh, jika Rp. 200.000.000,00 terdiii dari pembelian Rp. 20.000.000,00 bagian 123 dan Rp. 180.000.000,00 bagian 435 kemudian Rp 20.000.000,00 akan dicatat pada kartu persediaan untuk bagian 123 sebagai suatu penambahan (dalam kolorn penerimaan dan Rp 180.000.000,00 akan dicatat pada kartu persediaan bagran 435 dalam cara yang sama.




BENTUK PERMINTAAN BAHAN
Diperiksa oleh      :                 
(ttx.)
Dikeluarkan oleh  :
(ttx.)
Permintaan bahan No.

Tgl.                 Belanja untuk pekerjaan No
Nomor Perkiraan Persediaan
Deskripsi
No. Unit
Biaya Unit
Total Biaya





Ilustrasi 7.3. Bentuk Permintaan Bahan
            Setiap saat, total seluruh saldo kartu permintaan bahan sama dengan saldo perkiraan inventaris bahan mentah dan persediaan dalam buku besar umum.
            Ilustrasi jurnal yang kedua adalah pengeluaran. sebesar Rp 140.000.000,00 atas bahan mentah dan persediaan ke dalam pabrik dari gudang. Kartu permintaan bahan-bahan akan mendukung dokumen sumber pencatatan ini.
            Catatan menunjukkan bahwa Rp 100.000.000,00 atas bahan mentah langsung dikeluarkan untuk pekerjaan produksi. Karena itu, perkiraan inventaris barang dalam proses disebutkan sejumlah itu. Apabila persediaan dan bahan tak langsung (ini tidak termasuk penggunaan secara langsung dalam industri produk) dikeluarkan, perkiraan overhead pabrik adalah di debet.
            Catatan bahwa overhead pabrik adalah suatu perkiraan sementara: neracanya mungkin menjadi bagian dari inventaris barang dalam proses.
            Pendukung catatan-catatan pembantu juga harus digunakan dalam perkiraan inventaris barang dalam proses. Catatan-catatan pepbantu (buku besar pembantu) untuk inventaris barang dalam proses adalah kartu biaya pekerjaan atau buku besar biaya pekerjaan. Ilustrasi 7.4 pada bagian berikut adalah bentuk kartu biaya pekerjaan. Kartu (halaman buku besar) dihitung untuk tiap-tiap pekerjaan.
            Karena bahan mentah yang dipesan dan dipindahkan dan gudang untuk digunakan pada pekerjaan. perkiraan inventaris barang dalam proses di debet dan perkiraan inventaris bahan rnentah dan persediaan di kredit (seperti terlihat dalam contoh di atas. Setiap saat inventaris barang dalam proses di debet; untuk bahan-bahan yang digunakan, kartu biaya pekerjaan yang telah disediakan digunakan untuk men- catat penggunaan bahan-bahan. Kolom pertama pada kartu biaya pekerjaan menunjukkan, jumlah rupiah dari bahan-bahan yang digunakan dan referensi biasanya berisi jumlah pesanan bahan.
KARTU BIAYA PEKERJAAN
Pekerjaan No.
Deskripsi Pekerjaan
Tgl dimulai
Tgl penyelesaian
Tgl penyelesaian
Bahan mentah
Tenaga kerja langsung
Overhead pabrik
Ref
Jumlah
Ref
Jumlah
Ref
Jumlah
Total biaya pekerjaan :
Bahan mentah
Tenaga kerja langsung
Overhead pabrik
 

Harga penjualan
Komentar
Ilustrasi 7.4 Kartu Biaya Pekerjaan

2.      Akuntansi untuk Tenaga Kerja Langsung (Accounting for Direct Labor)
            Elemen biaya yang kedua, tenaga kerja langsun, sementara dikelompokkan dalam perkiraan yang disebut daftar upah tenaga kerja. Bila mana daftar upah disiapkan, jurnal yang dibuat pertama kali adalah :

19xx Agust.

25

Daftar upah tenaga kerja
Beban pajak (utang)
Gaji yang masih harus
dibayar

Rp. 500.000.000,00


Rp. 40.000.000,00

Rp. 460.000.000,00

            Perkiraan daftar upah tenaga kerja meliputi biaya tenaga kerla langsung maupun biaya tenaga kerja tak langsung (tenaga kerja penyeliaan) yang berhubungan dengan seluruh pekerjaan dan overhead pabrik. oleh karena itu, daftar upah tenaga kerja perlu dianarisis dan diklasifikasikan ke dalam dua kategori tenaga kerja. pembukuan yang dibuat adalah:
19xx Agust.

25

Inventaris barang dalam proses
Overhead pabrik
Daftar upah tenaga kerja
Untuk pemindahan
neraca ke daftar upah
tenaga kerja untuk kartu
biaya pekerjaan (untuk
tenaga kerja langsung
dan untuk overhead
pabrik)

Rp. 400.000.000,00

Rp. 100.000.000,00




Rp. 500.000.000,00

            Perkiraan sementara, daftar upah tenaga ker1a, diperkecil menjadi nol. Biaya tenaga kerja langsung dalam daftar upah tenaga kerja ditenrukan sejumlah Rp 400.000.000,00. oleh karena itu, jumlah ini secara langsung di debet untuk perkiraan inventaris barang dalam proses. Tenaga kerja tidak langsung di debet untuk perkiraan overhead pabrik, yang mungkin juga bagian dari.inventaris barang daram proses.
            Setiap waktu perkiraan inventaris barang dalam proses di debet untuk tenaga kerja langsung, kartu biaya pekerjaan pendukung harus disesuaikan. Biaya tenaga kerja tidak langsung dimasukkan pada kartu biaya pekerjaan bagi pekerjaan-pekerjaan yang dimasukkan. Misalnya, sejumlah Rp. 400.000.000,00 biaya tenaga kerja telah digunakan sebagai berikut: Rp. 100.000.000,00 dari tenaga kerja langsung unruk pekerjaan 241, Rp. 50.000.000,00 tenaga kerja langsung unruk pekerjaan 244, dan Rp. 250.000.000,00 renaga kerja langsung unruk pekerjaan 600. Dalam hal ini setiap jumlah akan dimasukkan dalam kartu pekerjaan.

3.      Akuntansi untuk overhead Pabrik (Accounting for Factory overhead)
            Seperti yang telah diperhatikan dalam Ilustrasi sebelumnya, perkiraan overhead pabrik adalah suatu perkiraan sementara yang digunakan untuk mengelompokkan biaya overhead sebelum menjadi bagian dari inventaris barang daiam proses perkiraan overhead pabrik di debet untuk
a.       Seluruh persediaan bahan-bahan tidak langsung yang dipakai dalam pabrik
b.      Seluruh biaya renaga kerja tidak langsung
c.       Seluruh bagian overhead pabrik yang lain, penyusutan asuransi pabrik, pajak pabrik, dan sebagainya.
            Seperti bagian, overhead pabrik lain yang dikeluarkan. perkiraan overhead pabrik di debet dan kas, utang dagang, penyusutan akumulatif atau beberapa perkiraan yang lain di kredit, tergantung pada keadaan.
            Sebagian besar perusahaan, juga membuar catatan pada sebuah buku besar pernbantu untuk overhead pabrrk. Buku besar tersebut hanya memiliki satu halarnan buku besar untuk tiap-tiap jenis overhead Jika perkiraan overhead pabrik dalam buku besar umum di debet. Perkiraan buku besar pembantu juga di debet untuk membuat catatan komposisi overhead secara rinci. Bahwa perkiraan overhead pabrik di kredit dan perkiraan inventaris barang dalam proses di debet untuk memindahkan biaya overhead pabrik ke barang dalam proses. Ayat jurnal umum dibuat untuk mencatat pemindahan ini sebagai berikut:
19xx Agust.

25

Inventaris barang dalam proses
Overhead pabrik untuk
membebankan overhead
pabrik pada pekerjaan


Rp. 300.000.000,00





Rp. 300.000.000,00

            Proses pemindahan overhead untuk barang daram proses biasanya dibuat menurut taksiran-dasar, karena manajemen tidak dripat menunggu sampai akhir periode, yaitu seluruh biaya overhead benar-benar dikeluarkan dan dicatat. Kartu biaya pekerjaan harus disusun secara harian agar seluruh biaya dapat'oilataarun secara efektif. contoh, beberapa pekerjaan telah diseresaikan dalam pabrik setiap hari. Total biaya dari tiaptiap pekerjaan tersebut harus diketahui, sebelum semua biaya overhead dicatat pada bulan yang bersangkutan (misalnya biaya listrik).
            Salah satu cara yang biasa digunakan untuk manaksir overhead yang dibebankan pada pekerjaan-pekerjaan dapat diilustrasika, dengan contoh berikut. Anggap bahwa perusahaan bermaksud mengeluarkan Rp. 500.000'00 untuk biaya tenaga kerja langsung dalam mengerjakan pekerjaan untuk suatu periode akuntansi yang sedang berjalan ilustrasi ini menggambarkan estimasi yang terbaik yang dapat dibuat oleh manajemen. Hal ini didasarkan pada informasi mengenai pekerjaan yrng akun dikerjakan dan biaya tenaga kerja langsung Selanjutnya dimisalkan bahwa perusahaan bermaksud untuk mengeluarkan sebesar Rp. 400.000,00 untuk biaya overhead pabrik selama periode yang sama. Hal ini Juga merupakan estimasi manajemen yang terbaik. Jika estimasi tersebut wajar maka dapat diputuskan bahwa, untuk setiap rupiah dan tenaga kerja langsung. Ditaksir biaya overhead pabrik sebesar 80%. Artinya biaya overhead pabrik diharapkan sebesar 80% dari biaya tenaga kerja langsung. Bentuk persamaannya sebagai berikut :


x 100%
 
Biaya overhead pabrik yang ditaksir
Tarif overhead =      Biaya Tk. Langsung yang ditaksir

x 100%
 
 =     Rp. 400.000,00
        Rp. 500.000,00
 =     80%


            Tarif overhead pabrik dapat digunakan sebagai dasar untuk memindahkan overhead pabrik ke barang dalam proses dan untuk kartu biaya pekerjaan. Contoh, jika total btaya tenaga kerja langsung setiap hari Rp. 10.000,00, selanlutnya overhead pabrik ditaksir sebesar Rp. 8.000,00 (atau 80% dari Rp. 10.000,00). Pembukuan akan di debet untuk inventaris barang dalam proses (dan untuk kartu biaya pekerjaan) untuk Rp. 8.000,00 dan di kredit untuk perkiraan overhead pabrik. Beberapa perusahaan juga mengkalkulasikan biaya tenaga kerja langsung untuk pekerjaan harian sehingga angka biaya yang paling akhir dapat digunakan untuk pengendalian.
            Pada akhir periode akuntansi, jika estimasi benar maka pada kolom debet perkiraan overhead pabrik akan berjumlah Rp 400.000,00 (overhead aktual yang dikeluarkan), dan pada kolom kredit perkiraan overhead pabrikluga akan sebesar Rp 400.000,00 (dikalkulasikan sebagai 80% dari Rp. 500.000,00 biaya tenaga kerja langsung). Tentu estimasi akan berbeda dari waktu ke waktu.

4.      Akuntansi untuk Barang Jadi (Accounting for Finished Goods)
            Apabila suatu pekerjaan telah selesai, kartu biaya pekerjaan memperlihatkan total biaya dari pekerjaan, meliputi bahan mentah, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Sekarang pekerjaan menjadi bagian dari barang jadi dan siap untuk dijual. Contoh, anggap bahwa pekerjaan 484 telah dilengkapi dengan toral trraya sebesar Rp. 32.180,00. Dibukukan sebagai berikut:
19xx Agust.

30

Inventaris barang jadi
Inventaris barang
dalam proses pekerjaan 484

Rp. 32.180,00




Rp. 32.180,00

            Kartu biaya pekerjaan (no. 484) akan dipindahkan dari catatan-catatan pcmbantu pendukung inventaris barang dalam proses dan diarsipkan, untuk referensi yang akan datang. catatan pembantu untuk barang jadi ijuga digunakan untuk mendukung perkiraan inventaris barang jadi. Kartu biaya pekerjaan yang lengkap dapat digunakan untuk tujuan ini.

5.      Akuntansi untuk Hasil Penjualan (Accounting for Sales)
            Untuk pekerjaan 484 telah dijual seharga Rp 40.000,00 akan dibuat sebagai berikut:
19xx Agust.

25

Harga pokok barang yang dijual
Inventaris barang jadi
Piutang dagang
Hasil penjualan
Penjalan sebesar 484
Pembiayaan Rp. 32.180,00
Untuk Rp. 40.000,00 secara
kredit[5]

Rp. 32.180,00

Rp. 40.000,00


Rp. 32.180,00

Rp. 40.000,00




BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Dari pembahasan yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal, antara lain yaitu :
1.      Sistem akuntansi biaya atas dasar pesanan adalah perusahaan industri yang berproduksi hanya atas dasar pesanan pada umumnya akan menghasilkan produk yang sangat bervariasi dan berbeda satu sama lain sesuai dengan kehendak konsumen.
2.      Sistem akuntansi biaya atas dasar pesanan dapat juga digunakan untuk memproduksi barang guna mengisi persediaan untuk kemudian dijual pada konsumen tertentu.
3.      Dalam sebuah perusahaan berbasis pesanan, pengumpulan biaya per-pekerjaan menghasilkan informasi bagi manajemen. Jika proses produksi telah selesai, kos perunit dengan membagi total biaya produksi dengan jumlah unit yang diproduksi.
4.      Dalam sistem harga pokok normal, Biaya overhead dibebankan ke produk dengan menggunakan tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan dimuka.
5.      Hal-hal yang perlu menjadi catatan dan transaksi bisnis yaitu: akuntansi untuk bahan-bahan, akuntansi untuk tenaga kerja langsung, akuntansi untuk barang jadi, akuntansi untuk overhead pabrik, akuntansi untuk hasil penjualan.

B.     Penutup
Demikian makalah ini kami buat. Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan dan pembahasan makalah ini kami mohon maaf. Kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan untuk lebih baiknya paper yang kami buat selanjutnya. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Heriadi. Akuntansi Manajemen suatu sudut pandang. BPFE.
Yogyakarta. 2002
Krismiaji. Dasar-Dasar Manajemen. AMP YKPN. Jogjakarta. 2002
Lili M. Sadeli, Bedjo Siswanto. Akuntansi Manajemen. PT Bumi Aksara.
Jakarta. 1999




[1] Bambang Heriadi, Akuntansi Manajemen suatu sudut pandang, BPFE, Yogyakarta, 2002, hlm. 122-123
[2] Krismiaji, Dasar-Dasar Manajemen, AMP YKPN, Jogjakarta, 2002, hlm. 45-46
[3] Ibid, hlm 51
[4] Ibid, hlm. 53-54
[5]Lili M. Sadeli, Bedjo Siswanto, Akuntansi Manajemen, PT Bumi Aksara, Jakarta, 1999, hlm. 96-103

2 comments:

  1. BBQ1688 the All-New Trusted Site Play live Visit BBQ1688.com now We provide a Sports Betting, Slot Online Casino, Fish Hunter & More. Enjoy our 120% First Deposit Starter Pack. Get 120% welcome bonus up to RM1200 in Sportbook, live casino and slots.

    MAXBOOK55
    EVA1118
    BBQ1688

    ReplyDelete